Tim UNS
SATU KOMPLEKS-Gereja dan Pura terlihat dibangun berdampingan di salah satu sudut Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Minggu (23/6). Selain itu, kampus UNS juga memiliki Vihara yang terletak di belakang Pura serta Masjid yang letaknya sekitar 50 meter dari Vihara. Pembangunan tempat ibadah dalam satu kompleks ini merupakan bentuk toleransi kampus UNS terhadap perbedaan agama.Sebagai salah satu universitas negeri di Indonesia, Universitas Sebelas Maret Surakarta dapat dikatakan sebagai Universitas yang menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama. Biasanya, kampus hanya menyediakan satu atau dua tempat ibadah untuk agama yang menjadi mayoritas di kampus tersebut.
Berbeda dari kampus lain, UNS memiliki tempat tempat ibadah dari empat agama yang berbeda. Keempat tempat ibadah tersebut yaitu Masjid Nurul Huda, Gereja Kampus UNS, Pura UNS Bhuwana Agung Saraswati dan Vihara Kampus UNS Bodhisasana. Ini merupakan suatu pencapaian yang baik di tengah perbedaan agama yang ada karena tidak semua universitas di Indonesia menyediakan tempat ibadah yang cukup lengkap di lingkungan kampus.
Seperti yang telah diungkapkan salah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS yang tidak mau disebut namanya kepada tim akademia, Sabtu (22/6), “Universitas Sebelas Maret dapat dikatakan sebagai Indonesia versi mini. Kita dapat menjumpai mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda. Semboyan Bhineka Tunggal Ika dapat saya rasakan di sini. Mahasiswa dengan agama apa saja dapat kita temui, dan mereka dapat dengan mudah beribadah karena tersedia tempat ibadah yang lengkap di kampus.”
Sependapat dengan hal itu, Dhony Krisdhianto (22), Ketua Umum Gereja Kampus mengungkapkan, “Yang tempat ibadahnya lengkap ya baru di UNS, universitas lain belum ada yang tempat ibadahnya selengkap ini. Tandanya kan toleransi antarumat beragama di UNS sangat bagus, semua tidak saling mengganggu dan ada rasa untuk saling menghormati.”
Mahasiswa Agroteknologi Fakultas Pertanian UNS ini juga menambahkan bahwa Jamaat dari agama Kristen sendiri, merasa tidak akan keberatan apabila ada mahasiswa dari agama lain yang datang ke gereja untuk melihat prosesi ibadah, asalkan tidak mengganggu.
Bukan Hanya Mahasiswa
Ditemui di tempat yang berbeda, Ni Luh Putu Indah Permataswari (19) menguraikan bahwa dengan adanya tempat ibadah untuk agama Hindu, gadis cantik yang sering disapa Indah ini merasa lebih mudah untuk beribadah. Meski pada awalnya ia merasa asing. Namun sekarang ia sudah terbiasa, ia memiliki teman yang tidak pernah membahas mengenai perbedaan agama.
“Awal-awal kuliah, rasanya beda, ngerasa asing. Mungkin karena aku lahir dan besar di Bali yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Yang muslim, ya paling cuma 2-3 orang. Terus sekarang tiba-tiba langsung jadi minoritas sendiri. Untungnya sekarang saya sudah cukup terbiasa. Saya juga sering ke pura, jadi suasana keagamaannya masih dapet. Selain itu, di kampus saya memiliki teman yang nggak pernah ngomongin atau ngebahas perbedaan agama, jadi ya nyaman-nyaman aja.” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa yang beribadah di Pura UNS bukan hanya mahasiswa dari UNS saja, tapi juga ada mahasiswa dari kampus lain serta masyarakat Hindu yang ada di Solo.
Tidak hanya itu, Suwarto, Staf Kesetariatan Nurul Huda. mengatakan bahwa UNS merupakan universitas yang sangat toleransi antar umat beragama. “Untuk masalah toleransi umat beragama, UNS tentu merupakan universitas yang sangat toleran. Apalagi sekarang semua tempat ibadah tersedia di UNS dan telah di renovasi. Bahkan ada gojekan dari teman-teman yang mengatakan bahwa UNS adalah kampus pancasila” tutur Alumni Fakultas Ekonomi UNS ini.
Sebagai negara dengan keberagaman agama, pihak kampus menyediakan fasilitas keagamaan guna memenuhi kegiatan rohani disamping kegiatan akademik. Menurut Lilik, Soerjono, S. H. pihaknya mengungkapkan bahwa selama ini tidak pernah ada gesekan dengan agama lain. “Kami memang minoritas, tetapi kami tidak pernah merasa terasing di tengah mayoritas agama lain. Sudah menjadi hal yang wajar apabila masjid dibangun lebih besar, kami tidak pernah merasa iri, toh jumlah mahasiswa budhis disini (kampus) memang sedikit”, tutur dosen agama budha yang aktif dalam kepengurusan vihara-vihara Surakarta itu.

0 comments:
Post a Comment