Pages

Friday, September 12, 2014

Artis jadi pakar politik?


 Foto : http://www.riaukepri.com/
Pasca penyelenggaraan Pemilu 2014, banyak artis yang bermunculan untuk berebut kursi di senayan. Hal ini berkaitan dengan efek media massa yang memberi kesempatan terbuka bagi siapapun karena terdapat adagium politik dalam media massa. Dimana nuansa pencitraan dinilai paling mendominasi tampilan politik di masyarakat.

Citra politik dan simulakra politik dijadikan kekuatan utama dalam mengendalikan wacana politik. Artis dirasa sebagai angin segar dalam menaikkan rating parpol. Dalam situasi ini, beberapa parpol mencari citra positif masyarakat dengan merekrut beberapa artis papan atas. Citra positif dianggap dapat berubah menjadi sebuah mesin politis yang dapat berpengaruh dimasyarakat.
Dalam kesempatan ini, beberapa artis yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang politikpun memanfaatkan keadaan sehingga susah untuk dimengerti, politik adalah lahan uang atau sebagai media ke arah sejahtera. Dengan pencitraan dilayar kaca, mereka dengan mudah mendapatkan perhatian dari masyarakat. Namun, apakah dengan pencitraan cukup? Bagaimana dengan kualitasnya?
Beberapa artis yang baru terjun dalam politik berdalih belajar dan mencari pengalaman di parlemen, padahal parlemen bukan media pembelajaran politik tetapi sebagai penerapan ditingkat lanjut. Jadi, bagaimana hasil dari kinerja parlemen jika wakil rakyat saja tidak memiliki pengetahuan tentang politik? Apakah mereka sudah pantas duduk dikursinya? Salah rakyat yang kurang mengerti? Atau kurang kesadaran wakil rakyat atas kemampuannya?

Menjadi wakil rakyat adalah hak bagi masyarakat Indonesia. Namun, dibutuhkan ilmu dan pengetahuan karena posisi tersebut memiliki tanggung jawab besar untuk membawa masyarakat kearah yang lebih baik dan mampu mengayomi dan menerima atas berbagai aspirasi.

0 comments:

Post a Comment

 

DISCLAIMER

Protected by Copyscape Online Plagiarism Scanner