Foto : http://www.riaukepri.com/
Pasca
penyelenggaraan Pemilu 2014, banyak artis yang bermunculan untuk berebut kursi
di senayan. Hal ini berkaitan dengan efek media massa yang memberi kesempatan
terbuka bagi siapapun karena terdapat adagium politik dalam media massa. Dimana
nuansa pencitraan dinilai paling mendominasi tampilan politik di masyarakat.
Citra
politik dan simulakra politik dijadikan kekuatan utama dalam mengendalikan
wacana politik. Artis dirasa sebagai angin segar dalam menaikkan rating parpol.
Dalam situasi ini, beberapa parpol mencari citra positif masyarakat dengan
merekrut beberapa artis papan atas. Citra positif dianggap dapat berubah
menjadi sebuah mesin politis yang dapat berpengaruh dimasyarakat.
Dalam
kesempatan ini, beberapa artis yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup
tentang politikpun memanfaatkan keadaan sehingga susah untuk dimengerti,
politik adalah lahan uang atau sebagai media ke arah sejahtera. Dengan
pencitraan dilayar kaca, mereka dengan mudah mendapatkan perhatian dari
masyarakat. Namun, apakah dengan pencitraan cukup? Bagaimana dengan kualitasnya?
Beberapa
artis yang baru terjun dalam politik berdalih belajar dan mencari pengalaman di
parlemen, padahal parlemen bukan media pembelajaran politik tetapi sebagai
penerapan ditingkat lanjut. Jadi, bagaimana hasil dari kinerja parlemen jika
wakil rakyat saja tidak memiliki pengetahuan tentang politik? Apakah mereka
sudah pantas duduk dikursinya? Salah rakyat yang kurang mengerti? Atau kurang kesadaran
wakil rakyat atas kemampuannya?
Menjadi
wakil rakyat adalah hak bagi masyarakat Indonesia. Namun, dibutuhkan ilmu dan
pengetahuan karena posisi tersebut memiliki tanggung jawab besar untuk membawa
masyarakat kearah yang lebih baik dan mampu mengayomi dan menerima atas
berbagai aspirasi.

0 comments:
Post a Comment